
Gue suka banget ngebahas password manager karena di zaman sekarang, ini salah satu benteng utama buat ngelindungin data pribadi kita. Walaupun gue pribadi lebih condong ke password manager open-source dan offline, satu hal yang hampir nggak pernah gue rekomendasikan adalah password manager bawaan HP.
Gue paham, opsi ini memang paling praktis. Tapi jujur aja, selain praktis, alasan lain buat tetap pakai password manager bawaan HP itu tipis banget. Gue sempat ngulik cara kerjanya, gimana dia dipakai di situasi nyata, sampai batasannya. Dan hasilnya, kekurangannya jauh lebih banyak dibanding kenyamanan atau sekadar loyal ke satu platform.
Mengikat vault ke akun platform bikin satu titik kegagalan fatal
Password lu nempel ke Apple ID atau akun Google

Kalau lu pakai iCloud Keychain atau Google Password Manager, akses ke seluruh kumpulan password lu itu bergantung penuh ke Apple ID atau akun Google lu. Bukan cuma ke keamanan HP lu.
Masalahnya, ini bikin lu rentan ke hal-hal yang sama sekali nggak ada hubungannya sama hacking. Misalnya akun lu kena flag fraud otomatis, kena suspend karena pelanggaran ToS, gagal verifikasi MFA, atau proses recovery yang tiba-tiba terkunci. Bisa aja cuma sementara, tapi lima menit nggak bisa login itu udah cukup bikin panik setengah mati.
Apple memang punya Advanced Data Protection yang mindahin proses recovery ke device atau kontak tepercaya. Tapi ini justru bikin ketergantungan makin dalam. Kalau device atau kontak itu nggak bisa diakses, ya sudah, lu bisa kehilangan akses sepenuhnya. Ini beda sama password manager khusus yang akses vault-nya berdiri sendiri, nggak tergantung akun vendor perangkat.
Enkripsi end-to-end ada, tapi lu nggak bisa beneran ngecek
Lu cuma disuruh percaya, tanpa bisa verifikasi
Credit: Brady Snyder / MakeUseOf

Apple lewat Advanced Data Protection bilang iCloud Keychain pakai end-to-end encryption. Google juga bilang data dienkripsi di device sebelum disinkronkan. Kedengarannya bagus.
Masalahnya, ini semua klaim yang harus lu telan mentah-mentah. Kita nggak punya threat model yang dipublikasikan, nggak ada reproducible build, dan nggak ada audit independen yang bisa diverifikasi publik soal implementasi vault password mereka.
Di Apple, konfigurasi keychain default masih memungkinkan recovery pakai kunci yang disediakan Apple. Di Google, kunci enkripsi diturunin dari akun. Tapi detail teknis lengkapnya nggak pernah dibuka ke publik. Karena semuanya closed-source, peneliti eksternal juga nggak punya cara buat bener-bener ngebuktiin cara kerjanya.
Di titik ini, password manager khusus jauh lebih unggul. Mereka rutin nerbitin audit pihak ketiga, whitepaper kriptografi, dan scope bug bounty. Intinya bukan soal Apple atau Google bisa baca password lu atau nggak, tapi soal beda antara enkripsi yang sekadar ada dan enkripsi yang bisa diverifikasi.
Akses fisik ke HP bikin batas keamanan runtuh
Begitu HP kebuka, vault lu tinggal selangkah lagi

Credit: Justin Duino / MakeUseOf
Password manager bawaan HP berangkat dari asumsi sederhana. Kalau HP lu kebuka, berarti yang megang pasti pemilik sah. Di iOS, setelah Face ID atau Touch ID lolos, autofill password langsung aktif. Nggak ada timeout vault terpisah atau master password khusus. Di Android memang ada autentikasi tambahan, tapi secara default tetap ngikutin status unlock device.
Arsitektur kayak gini berbahaya di dunia nyata. Kalau HP lu kebuka lalu dicuri, vault password lu bisa diakses tanpa penghalang tambahan. Apple memang punya proteksi tambahan buat kasus pencurian, tapi itu bergantung lokasi dan pola perilaku, dan tetap bukan solusi total.
Password manager khusus biasanya minta autentikasi terpisah walaupun HP sudah kebuka. Ini jauh lebih aman buat pemakaian harian.
Migrasi dan keluar itu mungkin, tapi sengaja dibikin ribet
Lu bisa pindah, tapi sistemnya nggak ramah

Credit: Tashreef Shareef / MakeUseOf
Di Android dan iOS, lu memang bisa export password. Tapi kalau pernah nyoba, lu tahu ini proses yang penuh gesekan. Di iPhone, lu harus masuk ke setting yang dalam banget, cari menu password, lalu export CSV. Di Android, biasanya lewat Google Takeout, dan itu juga nggak intuitif.
Lebih parah lagi, file CSV hasil export itu nggak terenkripsi. Artinya lu harus ekstra hati-hati nyimpen dan wajib hapus setelah selesai. Metadata penting juga bisa hilang. Pas mau import ke password manager lain, lu sering harus beresin manual karena nggak ada format standar.
Ini pola UX yang jelas-jelas bikin pengguna males pindah. Biaya buat switching sengaja dinaikin. Mau nggak mau, lu tetap harus nyoba semua cara buat backup password lu sendiri.
Sinyal keamanan lanjutan minim dan reaktif
Yang ada cuma peringatan dasar

Credit: Afam Onyimadu / MUO
Password manager bawaan HP biasanya cuma ngasih peringatan password dipakai ulang atau akun yang bocor di data breach. iOS pakai data milik Apple sendiri, Google pakai Password Checkup.
Yang nggak ada adalah analisis mendalam. Lu nggak dapat tracking umur password, penilaian kekuatan password, atau deteksi akun lama yang sudah nggak relevan. Mereka juga nggak nunjukin akun bocor mana yang paling berisiko. Kalau lu punya ratusan login hasil bertahun-tahun, fitur kayak gini itu wajib.
Password manager khusus sudah jauh di depan. Mereka punya dark web monitoring, laporan kesehatan akun berkelanjutan, dan insight yang bisa langsung ditindaklanjuti.
Berbagi password itu kebutuhan modern, tapi built-in nggak siap
Hidup digital sekarang butuh akses bersama
Di dunia sekarang, berbagi akun itu hal biasa. Pasangan ngatur keuangan bareng, keluarga berbagi layanan streaming. Sayangnya, password manager bawaan HP itu payah buat urusan ini.
Di iOS ada Family Sharing, di Google ada Google Family. Tapi dua-duanya masih kasar. Biasanya all-or-nothing, nggak ada izin view-only, nggak ada batas waktu, dan nggak ada audit log. Lu juga nggak bisa tahu siapa akses apa, dan hampir mustahil berbagi aman ke orang di luar ekosistem.
Di password manager khusus, berbagi itu fitur inti. Ada izin granular, bisa dicabut kapan aja, ada log akses, dan lintas platform.
Jadi, emang kenyamanan itu sepadan?
Password manager bawaan HP itu sebenarnya nggak insecure dan juga nggak asal-asalan. Masalahnya, mereka dibuat buat melayani ekosistem, bukan realita hidup digital sehari-hari.
Alasan kita pakai password manager khusus itu karena kebutuhan kita sudah jauh melampaui desain yang cuma mengutamakan praktis. Mereka mikirin skenario kehilangan device, akun terkunci, paksaan, sampai human error. Sama seperti gue yang sudah berhenti ngandelin browser buat nyimpen password, sudah saatnya kita juga berhenti ngandelin HP buat hal yang sepenting ini.
0 Komentar